Kamis, 26 Oktober 2017

Beberapa Problem Kontemporer dalam Pandangan Islam

Penulis: Abdul Qadim Zallum
Judul Buku : Beberapa Problem Kontemporer dalam Pandangan Islam
Tebal buku : 80 halaman
Pengarang : Abdul Qadim Zallum
Penerbit : Al-Izzah

Perkembangan sains khususnya bidang biologi telah menorehkan sebuah catatan tentang terlahirnya "domba Dolly" hasil dari kloning. Menyusul kemudian kloning binatang-binatang lainnya, tak ayal pun manusia jua akan di kloning. Sementara di sisi lain bertebaran pendapat tentang pembolehan kloning untuk dilakukan.

Jaman sedikit banyak memang telah berubah, perubahan itu telah membawa umat Islam yang tidak berbekal tsaqofah Islam yang mumpuni ikut terjun ke arus perubahan, tanpa memandang perubahan yang dilakukan itu sesuai dengan Islam ataukah tidak. Problem kontemporer yang jika umat Islam tidak segera berbenah diri, akan menggilasnya menjadikan tidak berdaya dihantam kesana kemari, dituduh, dikambing hitamkan, disalah artikan, dsb-nya.

Islam sejatinya sebagai sebuah Dien yang syamil dan kamil telah mampu menjadi Adidaya Dunia, setidaknya itulah argument bahwa jika Islam diterapkan dalam kehidupan akan menebarkan rahmat bagi seluruh alam. Di masa apapun Islam, tetap akan bisa menjawab perubahan zaman, sekomplek apapun problem, Islam tetap harus dijadikan tonggak yang menancap dan jangan pernah dicabut sampai akhir zaman.

Sebagai seorang Islam yang mumpuni dan bisa tergolong Mutjahid Syekh Abdul Qadim Zallum mencoba menjawab problem kontemporer sekitar kloning, transplantasi organ, abortus, bayi tabung, penggunaan organ tubuh buatan serta definisi hidup dan mati. Tentunya dari perspektif Islam. Abdul Qadim Zallum menyadari serangan Barat tidak akan pernah berhenti, nilai kemanfaatan (pragmatisme) telah menjadi standar yang syah bagi kaum muslimin (hal 5). Oleh karenanya, tatkala Barat menemukan suatu penemuan ilmiah, kaum muslimin yang sudah terbaratkan tidak memperhitungkan aspek apapun kecuali aspek kemanfaatan.

Kendatipun penemuan-penemuan ilmiah bersifat universal --dalam arti tidak secara khusus didasarkan pada pandangan hidup tertentu-- akan tetapi penggunaan produk-produk penemuan itu tetap harus didasarkan pada hukum syara'. Prinsip itulah yang menjadi landasan Zallum membahas topik-topik itu dalam kitab yang dibuatnya tahun 1997.

Sehingga bagi kita pembacanya, hanya diwajibkan untuk terikat dengan hukum syariat, karena sejatinya hukum itu telah ada, hanya kemauan kita untuk mentaatinya. Hukum tentang problem kontemporer senantiasa akan ada jawabnya, dan Zallum menggalinya dari nash-nash yang Insya Allah kalau kita membacanya bisa menambah yakin kepada kita bahwa Islam memang Rahmatan lil Alamin.
Continue reading

Ada Apa dengan Cinta?

Judul Film : Ada Apa dengan Cinta?
Jenis Film : Drama Percintaan
Sutradara : Rudi Sujarwo
Produser : Mira Lesmana & Riri Riza
Pemain : Dian Susastro (sbg Cinta), Nicholas (sbg Rangga)

ADA APA DENGAN CINTA?(AADC) Film besutan Rudi Soejarwo, serta diproduseri Mira Lesmana dan Riri Riza, dua orang yang juga membidani "Petualangan Sherina" begitu mengharu biru, mengena di hati pemuja cinta. Buktinya? Ketika premier di Surabaya, bioskop Mitra dan Galaxy karcisnya ludes terjual, bahkan untuk show keempat pun habis, belum ke itung yang pesen lewat telepon untuk pemutaran besok. Trus ada yang ngebelain, ngebolos skul hanya demi AADC, cek ..cek...cek !!(Jawa Pos, 9/02/02)

AADC, garapan Miles Production bercerita tentang seorang cewek bernama Cinta, yang perilakunya agak sedikit aneh setelah ketemu Rangga, cowok penyendiri. Keanehan itu ternyata berbuah rasa jatuh cinta. Sementara sohib-sohib Cinta yang nggak tahu kalo Cinta sedang jatuh cinta, cuma bisa bertanya: ada apa dengan Cinta? Dian Sastrowardoyo (19 tahun) yang juga bintang "Pasir Berbisik" dipercaya jadi Cinta dan Titi Kamal (sebagai Maura), model yang pemain sinetron. Sementara Rangga dipercayakan pada Nicholas Saputra (17), pelajar kelas III SMU 8 Jakarta. Pendukung lainnya ada Ladya Cheryl (20, Alya), Sissy Priscillia (16, Milly) dan Adinia Wirasti (15, Karmen)

Film berbudget Rp3,7 M ini sebelom sang sutradara memulai syutingnya, ngebelain ngontak Anto Hoed dan Melly Goeslow lebih dulu buat ngomongin soal soundtrak lagu AADC, duet Melly dengan pendatang baru Eric. Pun Mira sang produser mengaku sempat nglakuin survey kecil-kecilan di 8 SMU di Jakarta.(Satunet.com).
AADC, membangkitkan kembali romantisme film remaja era 1980-an. Film ini akan membuat para penonton jatuh hati seperti "Gita Cinta dari SMA"-nya Rano Karno dan Yessy Gusman.

Cinta adalah satu kata yang lekat di hati remaja khususon pelajar. Mungkin kalo di survai di kalangan mereka pasti sudah kenal apa yang dinamakan dengan cinta. Bahkan kalo ditanya apa itu cinta, maka mereka akan melesungkan pipinya dan tersenyum karena bayangin apa itu cinta. Mungkin sebagian ada yang jawab "Sulit diungkapin dengan kata, lebih mudah dirasainnya dari pada diungkapinya".

Nah, yang jadi persoalan kalo kemudian salah dalam mengartikan cinta. Mereka menganggap cinta identik dengan ungkapan rasa sepasang sejoli yang dimabuk asmara. Lembaga formal untuk menyatakan cinta itu kalo nggak pacaran ya nikah. Sementara belon pasti apa yang pacaran itu nantinya akan menikahi sang pacarnya.
Kalo yang nggak jadi dinikahi, khan bisa berabe akibatnya, ada yang gantung diri, akibat virginitasnya sudah ilang diisep ama sang cowok, atau akibat laen yang lebih gawat dan nggak kecil harganya, seperti AIDS, terjerembap prostitusi, konsumsi narkoba dll.

Kalau menikah mereka menganggapnya itu tidak mungkin karena mereka masih menamai cintanya adalah cinya monyet. Jadi yang kemudian dipilih untuk menjadi solusi adalah pacaran. Pacaran memang sering di identikkan dengan cinta. Pacaran secara bahasa diartikan sebagai tunangan yang belum diresmikan.

Tetapi menurut definisi fakta setelah memperhatikan aktifitas remaja selama melakukan pacaran, pacaran diartikan sebagai hubungan istimewa antara lelaki dan perempuan yang kemudian mengikrarkan diri untuk saling memiliki, yang kemudian mereka mengadakan pertemuan secara khusus (kencan), sedanga aktifitas rutinnya adalah saling merayu, saling pandang, pegang-pegangan, surat-suratan, telpon-telponan, Email-emailan, kencan, jalan-jalan dan seterusnya.

Aktifitas pacaran tersebut bukanlah aktifitas PDKT (pendekatan), tetapi sudah mengarah kepada prilaku sex bebas. Seperti kasus yang baru-baru ini marak di Bandung. Seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung melakukan adegan panas dengan seorang mahasiswi perguruan tinggi negeri di kota yang sama, yang diabadikan dengan kamera Hendycamp. Ternyata film yang dibuat di salah satu hotel di Bali untuk memperingati 23 bulan mereka pacaran tersebut tersebar luas di kota Bandung. Akhirnya mereka barus rela dipecat dari kampusnnya dan harus berhubungan dengan polisi. (satunet.com). Lantas apa yang menyebabkan semuanya itu terjadi ?.

Jelas bahwa semuanya itu terjadi karena salah dalam mendefenisikan cinta, menurut mereka atau secara faktual bisa diraba bahwa cinta mereka identikkan dengan perasaan atau nafsu itu sendiri.

Tapi tidak demikian dengan Islam, cinta dalam pandangan Islam adalah suatu hal yang sakral, Islam tidak membelenggu cinta, dan tidak melarang seseorang bercinta atau punya cinta, karena itu suatu hal yang fitrah terjadi pada manusia. Hanya saja ketika ingin mengejawantahkan rasa cinta itu, Islam memberi batasan yang jelas dan itu sama sekali tidak berarti Islam mengekang. Seorang muslim laki dan perempuan tidak dilarang saling bercinta, tapi diaplikasikan dalam bentuk apa, dan bagaimana itu yang oleh Islam diatur, sehingga nantinya tidak akan menyebabkan fenomena kerusakan pergaulan di masyarakat. Nah untuk lebih jelasnya tentang apa itu cinta atau pacaran mendingan liat di link artikel yang judulnya "Darimana datangnya pacaran" di situs ini juga kamu bisa baca sepuasnya disitu.

Tapi yang jelas AADC ataupun film apapun nantinya yang mengangkat tema tentang cinta toh, naga-naganya pasti tidak lepas dari masalah pergaulan bebas remaja. Dan sebagai muslim jelas bergaul saja pake aturan apalagi pergaulan bebas pasti larangannya ada. OK?

Now, apapun pertanyaan yang muncul dari cinta, yang jelas jawabannya tidak diatas. Sebagai sobat muslim yang berkualitas, tentu hanya menjawab dengan islam dan Islam saja. Bukan apa-apa tapi itu adalah konsekuensi logis dari ISLAM yang sudah kamu ucapin ketika syahadat, yang kamu tulis di KTP, yang kamu ungkapkan lewat sholat, puasa, zakat de el el. Ada Apa Dengan Cinta? tanya aja kepada ahlinya, ya ISLAMUDA dong.
Continue reading

Perubahan Mendasar Pemikiran Sayid Qutub

Judul Buku : Perubahan Mendasar Pemikiran Sayid Qutub
Tebal buku : 106 halaman (tidak termasuk index, daftar isi, kata pengantar)
Pengarang : Abdullah at-Tharablusi
Penerbit : ibadah.net

Bagi kamu yang doyan baca-baca buku, utamanya buku tentang dakwah, atau gerakan dakwah, tentu tidak akan asing dengan nama Sayid Quthub. Tahun 1951, di usianya yang ke-45, as-Syahid Sayyid Qutub bergabung dengan Ikwanul Muslimin. Inilah saat merasa dirinya baru dilahirkan. Setelah 25 tahun umurnya dihabiskan dengan al-Aqaad.

Dalam al-Ikhwan, sekalipun tidak pernah menjabat sebagai pemimpin, Sayid telah dinobatkan sebagai pemikir nomor dua setelah Hasan al-Bana. Perubahan Sayid memang amat terlihat setelah beliau bergabung dengan al-Ikhwan, sekalipun ini bukanlah pemikiran beliau yang terakhir.

Buku ini dikumpulkan dari artikel yang ditulis secara berseri dalam majalah al-Waie dengan judul at-Taghyir al-Judzuri fi al-Fikri al-Syahid Sayyid Qutub. Pertanyaan-pertanyaan yang menjadi kunci pembahasan buku ini, diantaranya apa yang dimaksud 'perubahan mendasar' dalam pemikiran Sayid Qutub? Benarkah Sayid mengalami perubahan mendasar dalam pemikirannya?Jika Ya, dimanakah letak perubahan mendasar itu? Dan siapakah orang-orang yang telah mewarnai perubahan mendasar dalam pemikiran Sayid Qutub?

Setelah selama 25 tahun hidup dengan al-Aqaad, sebuah kelompok seni dan syair. Sayid merasakan ketidakbenaran dalam langkah yang dia ambil. Akhirnya sekitar tahun 1945, setelah beliau menyaksikan Hasan al-Bana, pendiri al-Ikhwan diburnuh, Sayid merasa simpati dan kemudian mengkaji sosok Hasan al-Bana. Dan tahun 1951, beliau bergabung bersama dengan al-Ikhwan. Beliau bergabung bersama jamaah ini selama kurang lebih 15 tahun sampai akhirnya meninggal dunia, setelah dihukum mati oleh Regim Nasser.

Karya monumental beliau yang hingga kini masih dikaji dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Tafsir Fi Dhilalil al-Qur'an. Inilah 'perubahan mendasar' yang terjadi dalam pemikiran tokoh syahid ini. Boleh jadi karena faktor keikhlasannya, belia akhirnya dapat meraih kedudukan agung ini. Keikhlasan ini nampak ketika beliau mampu mengumumkan, bahwa dirinya telah melepaskan diri dari pemikiran-pemikiran beliau sebelumnya, setelah beliau mengadopsi pemikiranya yang baru.

Keikhalasan beliau juga nampak ketika pada tahun 1953 berkunjung ke al-Quds dan bertemu Syekh Taqiyudin an-Nabhani. Mengenai pertemuan dua tokoh ini juga ditulis oleh Dr. Sadiq Amin tapi dengan nada negatif dalam bukunya ad-Da'wah al-Islamiyyah, Faridhatun Syari'iyah wa Dharuratun Basyariyyah, halaman 101.

Pertemuan Sayid dengan Taqiyudin telah banyak merubah pemikirannya, diantaranya tentang kewajiban mendirikan Daulah Khilafah Islamiyyah. Yang mungkin kalau ditelusuri sumber-sumber yang menuliskan itu sangat sulit ditemukan dan terlalu prematur untuk menyimpulkan. Tapi wacana-wacana itu dapat kita telusuri lewat buku yang dicetak pertama kali tahun 1993 ini. Edisi Indonesianya diterjemahkan dan diterbitkan oleh ibadah.net.

Akhirnya, apapun tentang Sayid Qutub rahimahullah, beliau adalah as-Syahid yang tetap hidup di tengah kita. Pemikiranya masih menyinarkan harapan untuk menyembukan kondisi umat, yang masih belum sadar, dan ketika banyak orang sudah tidak lagi mempunyai harapan terhadap kehidupan mereka. Dan buku ini, merupakan uraian terbaik dalam memahami mainframe gerakan Sayid Qutub yang banyak dilupakan oleh para pengikutnya. Selamat Membaca.
Continue reading

Hidup Sejahtera dalam Naungan Islam

Judul buku : Hidup Sejahtera dalam Naungan Islam
Penulis : Abdul Aziz al Badri
Penerbit : Gema Insani Press, Jakarta
Tebal : 69 halaman

Menganggap Islam tidak memberikan solusi bagi suatu masalah adalah hal yang lumrah di masa sekarang. Hasilnya, Islam tak lagi dipandang, aturannya tak lagi tersentuh, dan ummatnya tak lagi punya rasa percaya diri.

Pemutarbalikan fakta inilah yang coba diungkap oleh buku ini, yang menjelaskan Islam dari sudut pandang yang khas dan sulit dijumpai pada penulis lain secara objektif.

Dalam buku ini, penulis berani menohok peradaban barat yang kental dengan liberalisme/kebebasannya, yang saat ini dijadikan dewa idaman oleh ummat, namun membuat hasil yang jauh dari harapan, kesenjangan social yang parah, kebebasan bersaing dan menciptakan berbagai kelompok yang selalu berupaya untuk mengausai segala sektor kehidupan alias monopoli.
Sebelumnya, jauh-jauh sebelum konsep kapitalis dan sosialis lahir, Islam telah menawarkan dan merealisasikan konsep sistem pemeliharaan dan pengaturan urusan rakyat, cara pemenuhan kebutuhan pokok, penanganan kemiskinan, kesejahteraan hidup dan lain sebagainya, yang tidak akan bertentangan dengan fitrah manusia.

Islam tidak muncul dari suatu kesengsaraan social yang bersifat nisbi dan kondisional, namun adalah sebuah aturan mulia yang bertolak dari pandangan dasar tentang manusia dan kehidupan (aqidah). Islam memandang bahwa manusia punya keterikatan dengan hukum dan tata aturan dari Allah Swt pencipta alam semesta.

Bukti-bukti inilah yang coba diungkapkan oleh penulis.

Sebuah solusi dan fakta yang pasti tidak akan mampu terbantahkan bahwa Islam-lah yang terbaik.
Continue reading

Islam; Spiritual dan Politik

Oleh: M. Hatta*)

Judul : Diskursus Islam Politik dan Spiritual
Penulis : Hafidz Abdurrahman
Penerbit : Al-Azhar Press, Bogor
Tahun Terbit : 2004
Tebal Buku : 303 halaman.

Islam kaffah. Itulah tuntutan Allah SWT kepada kita sebagai Muslim. Kita pun, sebagai Muslim, senantiasa berdoa memohon kebaikan dan kesuksesan hidup di dunia maupun di akhirat.
Persoalannya sering kita tidak sadar dengan doa yang senantiasa kita panjatkan itu. Kita mengabaikan petunjuk-petunjuk Allah SWT agar sukses di dunia dan di akhirat. Tidak jarang di antar kita “ngoyo” mencari dunia, pergi subuh pulang malam, lupa sholat, lupa doa, lupa Allah SWT.

Seolah-olah dengan harta yang kita uber itu semua persoalan bisa kita selesaikan. Ada pula di antara kita yang “nongkrong” di masjid terus-menerus, tak pernah keluar mencari kehidupan, pasrah dengan perkembangan di luar yang mengarah kepada deislamisasi segala sisi kehidupan. Seolah-olah krisis ekonomi, kebobrokan birokrasi, korupsi dan kolusi yang merajelela, dekadensi moral, kriminalitas dan lain-lain akan terkikis habis dengan doa-doa dan istighosah yang mereka panjatkan. Ada juga di antara kita yang rajin mengerjakan perintah sholat, puasa, dan ibadah ritual lainnya, namun dalam berbagai aspek kehidupan mereka membuat pemecahan problem dengan cara-cara dari luar Islam. Dalam politik, mereka pakai demokrasi, bahkan ada yang pakai premanisme. Dalam masalah ekonomi, mereka pakai cara kapitalis dan lintah darat. Seolah tidak ada ruang bagi Allah SWT untuk mengatur kehidupan selain dzikir, tahlil, sholat, sholawat, dan sebagainya. Inilah berbagai ketidak-nyambungan antara doa “sapujagad” kita di atas dengan aktivitas alias usaha yang kita lakukan.

Tidak seperti agama-agama lain yang umumnya hanya bicara masalah spiritualitas, Islam ternyata menjelaskan dan mengatur urusan keduniaan, baik secara global maupun secara rinci. Seluruh urusan umat diatur oleh Islam dengan hukum syariahnya.
Dengan melihat berbagai fenomena/fakta real diatas, lewat buku Diskursus Islam Politik dan Spiritual ini, penulis memberikan pandangan sekaligus jawaban terhadap fenomena/fakta tersebut. Dalam karyanya ini, beliau ungkap tentang ke maha luasan dari ajaran agama Islam dalam segala aspek kehidupan, politik, ekonomi, kehidupan sosial, permasalahan hukum (yudikatif) dan lain sebagainya.

Dengan kepiawaiannya, beliau mampu melihat seluruh aspek dalam ajaran Islam yang maha sempurna, seperti pandangan Islam agama politik dan spiritual (hal.21-24), hakikat manusia menurut Islam (hal. 41-43), hukum syara yang berkaitan dengan masalah manusia dengan Allah (hal. 194-199), Sistem ekonomi, politik, sosial ke-masyarakatan (an-nidham al-ijtima’i), serta pendidikan dalam Islam (hal. 200-211), hukum Islam di seputar masalah manusia dengan dirinya (hal. 213- 216).

Setelah secara gamblang menjelaskan seluruh aspek kehidupan dalam sudut pandang Islam, beliau juga menjelaskan secara sistematis metode (Islamic method) dalam pelaksanaan atau penerapan hukum-hukum yang ada dalam Islam. Seperti metode menerapkan hukum Islam (hal. 224-230), metode menjaga syari’at Islam:khilafah Islam (hal. 232-235), metode menjaga syari’at Islam: jaminan reformasi dan kontrol terhadap khilafah (hal. 240-242), metode mengemban Islam: dakwah, jihad di jalan Allah, partai politik Islam, adanya khilafah (hal. 245-255). Namun, tidak hanya samapai disitu, beliau juga melengkapinya dangan sumber-sumber pemikiran Islam dan metode Islam (hal. 257-272).
Oleh karena itu, mempelajari, memahami, dan berjuang mewujudkan kembali eksistensi Islam sebagai agama spiritual dan politik secara kaffah, merupakan tugas suci yang harus diemban setiap Muslim sampai akhir hayatnya. Melalaikan hal itu, apalagi menyesatkan masyarakat dengan mempropagandakan bahwa Islam itu tidak pernah membahas politik dan jangan dicampuri dengan politik, adalah suatu penyimpangan dan perbuatan dosa yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Menerima sebagian Islam (masalah spiritualitas dan moralitas saja) dan menolak sebagian yang lain (politik, ekonomi, kehidupan sosial, pendidika, dan lain-lain), merupakan penyimpangan dari Islam.

Kehadiran buku ini sangatlah bernilai tinggi bagi (pengemban risalah Islam) yang selama ini bergerak untuk membangkitkan kembali umat yang sudah terlelap begitu lama dari tidur dan juga memberikan pencerahan (enlightment) kepada orang-orang yang selama ini menganggap dan bersikap sinis bahwa Islam hanyalah sebuah ajaran spiritualitas belaka.


*) Peresensi adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang, Ketua Umum Forum Pengkajian Ekonomi Syari’ah dan Dakwah Islam Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang.
Continue reading

Dialog dengan Atheis

Judul Buku : Dialog dengan Atheis
Penulis : Dr. Mustafa Mahmud
Penerbit : Mitra Pustaka (2003)
Tebal : 222 halaman

Wow judulnya aja udah bikin penasaran. Ya..bener buku ini cocok buat kamu-kamu remaja atau cendekiawan yang suka dengan tantangan. Nah sobat, sebagai muslim tentunya wajar banget kalo kita yakin bahwa Islam adalah agama yang paling bener. Keyakinan ini memang kudu tumbuh secara kuat dalam diri kita. Nggak boleh goyah sedikitpun. Selain itu kita juga kudu yakin kalo Al Qur?an dan Al Hadits sebagai pedoman hidup seorang muslim. Pasti itu?gak boleh yang lain.

Nah masalahnya itu, mampukah kita sebagai seorang muslim mempertahankan argumen dan keyakinan kita, pas berhadapan dengan orang lain yang punya paham atheis, alias nggak percaya dengan adanya Allah sang Khaliq? Mampu apa nggak kita membuktian secara aqliyah kalo Allah itu memang ada? Dan mampu apa nggak, kita untuk mempertahankan ideologi Islam kita di tengah-tengah banyaknya ideologi-ideologi lain yang lagi membanjir?

Buku ini menjelaskan secara gamblang tentang penulis, Dr. Musthafa Mahmud, seorang cendekiawan muslim mantan atheis, yang menyampaikan pengalamannya ketika berdialog dan berdebat dengan seorang sarjana atheis yang meraih gelar doktornya di Perancis. Buku ini berisi tentang tanya jawab keduanya, perdebatan yang seru dan juga argumen-argumen Islami yang tertata dan tajam yang dipaparkan oleh penulis. Ini bener-bener bacaan wajib buat kita-kita yang haus pengalaman dialog atau berhadapan dengan orang-orang nyeleneh macam atheis.

Dengan membaca buku ini diharapkan keyakinan kita terhadap Islam akan semakin kokoh, kuat dan tak tergoyahkan. Bukan karena Islam adalah warisan dari para pendahulu kita pada era lalu, namun lebih karena Islam adalah kebenaran sejati yang mampu mendapatkan pembenaran dari akal yang sehat dan kesadaran yang jernih.
Kalo nggak punya buku ini pasti rugi berat?.
Continue reading